Aku menemukanmu di setiap wajah sudra
Akrab, matamu tak katakan apa-apa
Hangat, sama saja
–di tubuhku terhampar makam.
Hitam liar. Kamboja berkilat, tertebar.
Makam tak dikenal. Dua nisan kembar.
Kenikmatan memancar. Nikmat belukar. Kekal–
(Ia kehilangan timur
Sebab setelah fajar
Kau terus saja tafakur)
Aku menyentuhmu di setiap peluk ksatria
Putingmu, susumu, bulumu, dengusmu, geliatmu, pusarmu, rangkulmu, bibirmu, gigitmu, zakarmu, rintihmu, keringatmu, bau tubuhmu
Karena itu aku mencintaimu
–di tubuhku kuil pertapaan. Menghampar taman
Wangi rerumputan. Di situ kau dapat menikam pikiran–
(Masih kau biarkan ia
Merangkak mengisak
Meraba-rava selatan
Ketika di puncak terang
Masih juga kau abaikan jalanan)
Aku melihatmu di setiap jilat waisya
Matamu gerhana
Menikam nafsu melata
Suaramu gempa-gempa
Meredam ingin hawa
–di tubuhku berdiri gubuk pengasingan.
Di sekitar, angin sepoi pedesaan. Wangi memancar, dari dua sungai menjalar–
(Lelah cahaya mengabarkan senja, namun tak juga ia temukan utara)
Aku merasakanmu di setiap kuncup brahmana
Dzikirmu memacu alir darahku
Tapi heningmu layukan runcing putingku
–di tubuhku api penyucian. Membakar dosa agamawan. Dosa-dosa asal–
(Ia merasakan barat
Ketika semua merapat pada senja
Warna jubah sang rupa)
Zaim Rofiqi, 2001
